Skip to content

Yang Tinggal dari Musim yang Pergi: Catatan dari Tanah Rantau tentang Rindu dan Kenangan

Description

Yang Tinggal dari Musim yang Pergi

Catatan dari Tanah Rantau tentang Rindu dan Kenangan

Ada musim yang datang dan pergi, tetapi ada hal-hal yang memilih tinggal: sepotong percakapan, aroma makanan sederhana, jalan yang pernah dilalui, bunga yang mekar sesaat, suara laut, salju yang jatuh, dan surat yang pada akhirnya tak pernah dikirim.

Yang Tinggal dari Musim yang Pergi karya Agus Budiawan Naro Putra adalah kumpulan catatan reflektif tentang kehidupan di tanah rantau—tentang bagaimana seseorang belajar membaca dunia yang asing, berdamai dengan kesunyian, menemukan kehangatan dalam hal-hal sederhana, sekaligus membawa pulang kenangan yang tak pernah benar-benar selesai.

Disusun mengikuti pergantian musim selama dua tahun, buku ini mengajak pembaca menyusuri perjalanan batin dari musim gugur, musim dingin, musim semi, hingga musim panas. Setiap musim menghadirkan cerita dengan warna dan suasananya sendiri. Ada bayang-bayang yang datang lebih dahulu daripada pemiliknya, bahasa yang retak di bibir, perjuangan menembus salju, sebungkus bento yang bersahaja, bunga persik yang mengingatkan pada kefanaan, hari-hari yang luput dari catatan, hingga surat yang sengaja dibiarkan tak pernah sampai.

Namun, buku ini tidak semata-mata bercerita tentang kehidupan di negeri orang. Di balik perubahan cuaca, lanskap kota, lorong-lorong yang dilalui, makanan yang disantap, dan peristiwa-peristiwa kecil sehari-hari, Agus Budiawan Naro Putra menghadirkan kisah tentang manusia yang sedang mencari makna dari jarak.

Tentang rindu kepada rumah. Tentang orang-orang yang ditinggalkan. Tentang pertemuan dan perpisahan. Tentang kesendirian yang perlahan mengajarkan keteguhan. Dan tentang diri sendiri yang tanpa disadari berubah setelah melewati begitu banyak musim.

Dengan gaya bertutur yang intim, puitis, dan kontemplatif, Yang Tinggal dari Musim yang Pergi mengajak pembaca melihat bahwa pengalaman merantau bukan sekadar perpindahan geografis. Merantau adalah perjalanan batin: meninggalkan sesuatu, menemukan sesuatu yang baru, lalu menyadari bahwa tidak semua yang ditinggalkan benar-benar hilang.

Setiap cerita menjadi semacam keping ingatan—sederhana, personal, tetapi menyimpan gema yang universal. Sebab siapa pun yang pernah jauh dari rumah mungkin pernah merasakan rindu yang sama; siapa pun yang pernah kehilangan mungkin pernah menemukan dirinya sendiri di antara kenangan; dan siapa pun yang pernah menunggu mungkin memahami mengapa ada surat yang akhirnya lebih memilih untuk disimpan daripada dikirim.

Yang Tinggal dari Musim yang Pergi adalah buku tentang musim, tetapi sesungguhnya ia adalah buku tentang waktu, jarak, manusia, dan kenangan.

Sebab musim boleh berganti, tempat boleh ditinggalkan, dan waktu terus berjalan. Namun, selalu ada sesuatu yang tinggal—di antara halaman, di dalam ingatan, dan di hati mereka yang pernah merantau.

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Yang Tinggal dari Musim yang Pergi: Catatan dari Tanah Rantau tentang Rindu dan Kenangan”

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rekomendasi Untukmu

Lihat Semua